big brother

Just another Blogdetik.com weblog

04
Jan
2011

Biji Mangga

by bigbrother

Suatu hari, seorang pemuda sedang berlibur ke rumah neneknya di desa. Saat tiba di sana, setelah melepas rindu dan beristirahat sejenak, neneknya menghidangkan sepiring irisan buah mangga yang menggiurkan warna dan aromanya.

“Wah, mangganya harum dan manis sekali nek, sedang musim ya. Saya sudah lama sekali tidak menjenguk nenek, sehingga tidak tahu kalau nenek menanam pohon mangga yang berbuah lebat dan seenak ini rasanya” ujar si pemuda sambil terus melahap mangga itu.

dengan tersenyum nenek menjawab, “makanya, sering-sering lah menjenguk nenek, nenek rindu cucu nenek yang nakal dulu. Pohon mangga itu sebenarnya bukan nenek yang menanam. Kamu mungkin lupa, waktu kecil dulu, setelah menyantap buah mangga, kamulah yang bermain melempar-lempar biji mangga yang telah kamu makan. Nah, ini hasil kenakalanmu itu, telah bertumbuh menjadi pohon mangga dan sekarang sedang kau nikmati buahnya”

“Sungguh nek? Buah mangga ini hasil kenakalan waktu kecilku dulu yang tidak disengaja? Wah, hebat sekali. Aku tidak merasa pernah menanam, tetapi hasilnya tetap bisa aku nikmati setelah sekian tahun kemudian, benar-benar sulit dipercaya” si pemuda tertawa gembira sambil menyantap dengan nikmat mangga dihadapannya.

Nenek melanjutkan berkata, “Cucuku, walaupun engkau tidak sengaja melempar biji mangga di halaman itu, tetapi bila tanah lahannya subur dan terpelihara, dia tetap akan bertumbuh. Dan sesuai hukum alam, saat musim buah tiba, dia pasti akan berbuah. Sedangkan rasa buahnya manis atau tidak adalah sesuai dengan bibit yang kita tanam”.

Malam hari, si pemuda merenungkan percakapan dengan neneknya. Karena merasa penasaran, diambilnya biji buah mangga sisa di meja dan dibelahnya menjadi 2, dia ingin tahu sebenarnya apa yang ada di dalam biji buah mangga itu sehingga bisa menghasilkan rasa manis yang membedakan dengan biji buah mangga yang lain. Ternyata dia tidak menemukan perbedaan apapun. Melihat tingkah si cucu.

sang nenek menyela “Cucuku, semua biji buah, tampaknya dari luar sama semua. Tetapi sesungguhnya, unsur yang ada di setiap biji buah itu berbeda, perbedaan itulah yang akan menghasilkan rasa, aroma dan warna setiap pohon mangga berbeda pula. Semuanya tergantung inti buahnya. Cucuku, Demikian pula dengan manusia, tampak luar, setiap manusia adalah sama tetapi yang menentukan dia bisa berhasil atau tidak adalah kualitas unsur-unsur yang ada di dalamnya. Nah, ternyata alam mengajarkan banyak kepada kita. Bila ingin hasil yang baik, harus memiliki unsur kualitas yang baik pula, apakah kamu mengerti?”. “Terima kasih nek, saya sungguh bersyukur memutuskan datang kesini, semua ucapan nenek akan saya jadikan bekal untuk lebih giat belajar dan membenahi diri agar hidup saya lebih berkualitas”. Ucapnya sambil memeluk tubuh rapuh sang nenek.

Sahabat…
Hukum alam pada kisah biji mangga ini mengajarkan pada kita 2 hal, Yaitu :

1. Apa yang telah kita tabur, entah disengaja atau tidak, diingat atau dilupakan, entah kapanpun juga. Hukum alam mengajarkan, apa yang kita tanam kita pasti akan menuai hasilnya.
2. Bahwa manusia mempunyai kemiripan dengan inti biji buah mangga, tampak luar sama, tetapi kualitas unsur yang ada di dalam inti buahnya yang membedakan rasa, aroma dan warna si buah mangga. Demikian juga dengan manusia, Kualitas mental yang didalamlah yang membedakan dan menentukan keberhasilan manusia di masa depan.

Mari kita perbaiki sikap, perhalus budi pekerti, jaga kebersihan hati dan selalu menggali potensi diri agar kesuksesan sejati bisa kita nikmati suatu hari nanti.

Semangat…

Kisah ini diambil dari CD Audio: 10 Wisdom & Success Classical Motivation Seri ke-7

27
Sep
2010

HIdup Setengah setengah

by bigbrother

Setengah Hidup?

Setengah Mati?

15
Sep
2010

Hal yang Paling Penting Bukanlah Siapakah Anda, Tetapi apa Yang Anda Lakukan

by bigbrother and tagged ,

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang Ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua,” jawab Ibu itu.”Wow… hebat sekali putra Ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah,anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya, Bu?? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam
menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat Ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama Ibu ??” Sambil menghela napas panjang, Ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau Ibu agak kecewa ya dengan anak pertama Ibu. Adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ?“
….Dengan tersenyum Ibu itu menjawab,
”Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani.”
Orang bijak berkata: “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN.

30
Jul
2010

insomnia

by bigbrother

hidup ini kok ya begini begini aja.
rasanya baru saja terpejam mata dan harus bangun lagi karena hari sudah pagi.

03
Mar
2010

If Life is So Short

by bigbrother

Saya pertama kali bertemu dengan Charles dan Linda Graham saat pasangan
asal Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropa Barat yang saya
pimpin, kira-kira 12 tahun yang lalu. Ketika itu mereka mengadakan
perjalanan dalam rangka memperingati ulangtahun emas perkawinan mereka.
Saya banyak berkomunikasi dengan mereka sebab mereka duduk di baris
pertama pada bus yang kami kendarai sepanjang perjalanan, tepat di
belakang bangku tempat duduk saya.

Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang
sudah berusia lebih dari 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya.
Bukan karena saya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka yang mungkin
kelelahan akibat perjalanan panjang, karena untuk ukuran kebanyakan
orang seusianya, mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya
perhatikan justru bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen
dalam perjalanan tersebut.

‘Pengamatan’ yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi terhadap mereka
- entah dengan mencuri pandang melalui kaca spion bus yang kebetulan
mengarah langsung pada mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka
berunding untuk menentukan mau pergi ke mana ketika acara bebas-membuat
saya melihat ada sesuatu yang ‘berbeda’ diantara keduanya dibandingkan
para peserta lain. Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas
dari raut wajah mereka yang sudah dipenuhi keriput.

Rasa penasaran saya atas pasangan Charles dan Linda belum sempat
terjawab ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir.
Seluruh rombongan berpisah untuk kembali ke tempat tinggal
masing-masing, sementara saya melanjutkan hidup saya seperti biasa.

Setahun berikutnya, ketika ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan
tur ke Eropa Timur, secara tak sengaja saya bertemu lagi dengan Charles
dan Linda yang ternyata juga ikut serta dalam rombongan tur yang saya
pimpin saat itu. Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan
ulangtahun perkawinan yang ke-51.

Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami menjadi cepat akrab.
Sebenarnya, saat itu saya hanyalah seorang tur leader pengganti lantaran
tur leader yang seharusnya memimpin perjalanan tersebut mendadak jatuh
sakit. Di awal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur
bahwa saya kurang familiar dengan rute perjalanan kali ini.

Di luar dugaan, Charles secara diam-diam berbicara banyak tentang saya
kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya
saat ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun sebelumnya.
Tentang bagaimana saya sudah menjadi tur leader yang menurut dia sangat
baik dan caring serta berbagai hal-hal positif lainnya.

Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki penilaian
positif terhadap saya. Konsekuensinya, saya jadi lebih tertantang untuk
berbuat semaksimal mungkin, memberikan kualitas layanan yang terbaik dan
memuaskan.

Pengalaman memimpin grup tur ke Eropa Timur saat itu adalah awal
perjalanan karir saya sebagai seorang tur leader, namun justru di saat
saya merasa banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya
‘jam terbang’ dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah
memberikan dukungan positif atas apa yang saya lakukan saat itu sehingga
saya merasakan situasi yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan
semua itu disebabkan karena berbagai pernyataan positif yang disampaikan
oleh Charles.

“Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, kalau bisa membuatnya lebih
indah, kenapa harus dijalani dengan airmata. Kalau bisa memotivasi orang
lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikannya dengan celaan?”
demikian kata Linda saat saya menyampaikan terimakasih atas ‘promosi’
yang dilakukan suaminya untuk saya.

Prinsip “Life is too short” yang dianut oleh Charles dan Linda itu
membuat saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat
ini. Usia pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka di
atas 50 tahun adalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan
hidup mengarungi kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang
singkat pula.

“Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini bakal berakhir, kapan saat
terakhir kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja
besok saya atau kamu dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita
ketika menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai,
ternyata tidak pernah terwujudkan. Jika setiap saat kita berpikir bahwa
hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, maka kita akan termotivasi
untuk memberikan makna terbaik pada hari-hari yang kita jalani saat
ini,” demikian ungkap Charles panjang lebar. “Dan jika pada kenyataannya
kita diberi anugerah untuk menjalani hidup ini lebih lama, bukankah
hari-hari yang sudah kita lalui bakal menjadi rangkaian kenangan nan
indah? ”

Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan
hal-hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana
mengisi hari-hari ‘pendek’ kami dengan sebaik mungkin.”

Perkataan Charles dan Linda itu terus melekat di benak saya hingga kini.
Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan
pemikiran saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan
lebih bersemangat.

Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri juga telah
bersepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip ‘life is so
short’. Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar mengisi
hari-hari kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya
dan istri, maupun ulangtahun pernikahan, kami menjadi ajang untuk
introspeksi tentang hari-hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus
merencanakan apa yang akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun ke
depan.

Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan
masing-masing dan tidak ragu-ragu untuk saling mempersembahkan yang
terbaik dan berupaya untuk saling membahagiakan satu sama lain. Setiap
kali ada konflik yang terjadi, kami berupaya untuk menyelesaikannya
dengan sesegera mungkin.

Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga yang kami
jalani barulah ’seumur jagung’, sehingga saat ini kami baru menikmati
yang manis-manis saja. Memang benar, selama hampir dua tahun kehidupan
pernikahan kami, hampir bisa dipastikan kami jarang bertengkar.
Perselisihan memang ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakannya
agar persoalan yang kami hadapi tidak melebar dan meluas ke mana-mana.
“If you can make it simple, why make it hard?”, begitu kata Linda.

Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam
menjalani hidup ini, dan ketika nantinya kami dikaruniakan umur panjang
untuk bisa merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-10, 20, 30 atau
bahkan yang ke-50 seperti Charles dan Linda, wow…. betapa bernilainya
hari-hari yang telah kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenangan
indah yang telah terukir sepanjang kehidupan ini.

Dan kalaupun toh kami tidak dikaruniakan usia yang panjang, setidaknya
kami berdua sudah pernah melewati hari-hari yang indah bersama-sama.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kiriman surat dari Linda (kami
memang sering saling berkirim surat semenjak pertemuan kami di Eropa
bertahun-tahun lalu). Di suratnya Linda menceritakan bahwa Charles telah
meninggal dunia, beberapa saat setelah peringatan ulangtahun pernikahan
mereka yang ke-62. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan di
dalam suratnya tersebut.

Bahkan dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sejak lama bersiap
menghadapi momen perpisahan yang tak mungkin terelakkan oleh manusia
manapun di dunia ini. Linda mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka
bisa melewati saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu
banyak peristiwa yang boleh mereka jalani berdua. Dan ketika memang
’saat’ itu tiba, yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi
banyak kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang
yang dicintainya.

When you think your life is so short and when you always keep trying to
fill up your days with cheers and laughter; someday you’ll be amazed,
how many great moments you’ve been through in your lifetime. Itulah
kalimat penutup yang ditulis Linda Graham dalam surat terakhir yang
dikirimkannya pada saya.

………….

If life is so short..
Why don’t you let me love you ?
Before we run out of time..
If love is so strong..
Why won’t you take the chance ?
Before our time has come
If life is so short
…………
(’If life is so short’ - The Moffats)

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)